Apakah Unilever Masih Layak untuk Investasi Jangka Panjang?

Siapa sih yang gatau perusahaan satu ini? perusahaan besar yang produknya ada dimana-mana dan kita pakai sehari-hari dari bangun tidur sampai tidur lagi. Biasanya nih ya, perusahaan ini jadi perusahaan favorit investor pemula yang baru masuk pasar saham. Tapi, sebenernya Unilever ini perusahaan bagus ga sih? apakah masih layak untuk investasi jangka panjang? dan kenapa harga sahamnya turun 2 tahun terakhir?

mari kita analisis

Company Profile

Image result for produk unilever

PT Unilever Indonesia Tbk merupakan perusahaan yang bergerak pada sektor industri consumer goods dimana pertama kali IPO pada tanggal 11 Januari 1982 di bursa efek Jakarta dan Surabaya. Segmen operasinya ada dua kategori utama, yaitu home and personal carecontohnya ada lifebuoy, sunlight, pepsodent, dll dan foods and refreshments contohnya walls, buavita, royco, dll.

Dalam hal penjualan, Unilever lebih banyak menjual produknya di dalam negeri dengan persentase penjualan sebesar 95%. Segmen yang berperan besar dalam penjualan Unilever adalah segmen home and personal care yang berkontribusi sebesar 69% dibandingkan segmen foods and refreshments yang hanya 31%.

KINERJA FUNDAMENTAL

Laporan Laba Rugi

Kalo kalian sadar, harga saham Unilever satu tahun terakhir ini menurun drastis dari harga 9300-an/lembar (setelah stocksplit) di bulan Januari 2019 hingga sekarang per tanggal 24 Januari 2020 menjadi Rp 8175/lembar atau turun sebanyak 13%. Ada beberapa faktor yang jadi penyebab turunnya harga saham Unilever ini, tapi sebelum itu kuy kita ulik kinerja Unilever beberapa tahun belakangan.

Berdasarkan LK Q3 tahun 2019, Pendapatan Unilever dari tahun 2012-2019 tumbuh sebesar 56% dengan rata-rata pertumbuhan tiap tahun (CAGR) sebesar 5,73%. Sayangnya, kalo kalian perhatiin gaes dari tahun 2016 pertumbuhan pendapatan cenderung tumbuh tipis atau stagnan.

Laba Unilever tumbuh sebesar 51% selama 7 tahun terakhir dengan rata-rata pertumbuhan tiap tahun (CAGR) sebesar 5,3%. Unfortunately, tahun 2019 laba Unilever turun sebesar 11,42% dari tahun sebelumnya. kenapa ya kira-kira? ternyata penurunan laba Unilever bukan karena penurunan kinerjanya, tapi karena di tahun 2018 Unilever menjual kategori spreadsnya yaitu blueband dkk di bulan Juli sebesar 2,8 T jadinya laba 2018 keliatan melonjak dan laba 2019 keliatan turun. Padahal, kalo kita abaikan penjualan assetnya, ternyata laba Unilever tumbuh ya walaupun tumbuh tipis sih.

Neraca
Dari sisi neraca, Unilever termasuk golongan perusahaan dengan asset yang terus tumbuh tiap tahun. Tapi, salah satu masalah yang dihadapi Unilever adalah terkait likuiditas dan jumlah utang terhadap ekuitasnya (DER). Pembahasan ini agak panjang nih so prepare yourself..

Dari sisi asset, Unilever mencatatkan pertumbuhan sebesar 73% dari tahun 2012 dengan rata-rata pertumbuhan per tahun (CAGR) sebesar 6,2%.

Dari sisi utang, Unilever memiliki utang sebesar 13,9 T di tahun 2019 dimana jika kita bandingkan dengan ekuitas yang dimiliki (DER), Unilever memiliki DER sebesar 2,02 kali. Artinya, utang Unilever 2x lipat lebih banyak dibandingkan ekuitasnya dimana hal tersebut berpengaruh terhadap likuiditas perusahaan. Masih bingung? contoh gampangnya gini, kalian punya kekayaan total 1 jt lalu kalian punya utang ke Big Mom sebesar 3 jt. Artinya jumlah utang kalian 3x lipat dibanding kekayaan kalian dimana jika utang kalian jatuh tempo, otomatis kalian gabisa bayar utang dan semisal kalian adalah sebuah perusahaan maka bisa dikatakan kalian bangkrut.
Trus, Investasi di Unilever resikonya tinggi dong semisal gabisa bayar utang? eits bentar dulu, coba kita telusurin lagi utangnya Unilever bentuknya gimana.

Kalo diliat dari gambar diatas, utang Unilever lebih banyak utang jangka pendeknya dan didominasi sama utang usaha, akrual, dan utang lain-lain sedangkan Utang bank cuma berperan sebesar 18,8% aja. Bisa disimpulkan bahwa Unilever memiliki beban bunga yang relatif kecil dan beban bunganya pun hanya bersifat jangka pendek aja.

Setelah tau kalo utang usaha yang berperan besar, maka kita harus liat kira-kira Unilever bayar utangnya tepat waktu atau engga. Dan bisa kita liat, Unilever secara keseluruhan hanya sedikit yang utangnya dibayar lewat jatuh temponya sehingga dapat dikatakan bahwa sejauh ini likuiditas/resiko gagal bayar Unilever bisa dibilang kecil so buat sekarang masih bisa dibilang aman buat investasi jangka panjang.

Laporan Arus Kas

Kalo kita liat, arus kas operasi Unilever meningkat tiap tahunnya sejalan dengan laba perusahaan dengan demikian dapat disimpulkan bahwa laba yang dihasilkan perusahaan ga ada manipulasi* (manipulasi maksudnya? penjelasannya panjang hehe cari tau sendiri lah ya).

KESIMPULAN

1. Dari hasil analisis, bisa dikatakan bahwa Unilever masih bagus untuk investasi jangka panjang dimana laba, revenue, asset, dan ekuitas yang terus tumbuh tiap tahun. Sad but true, pendapatan maupun laba perusahaan dari tahun 2017 tumbuh tipis bahkan cenderung stagnan. Itulah yang menjadi alasan kenapa harga saham Unilever cenderung stagnan juga dari tahun 2017. Selain itu, untuk jangka panjang gue sarankan coba dilihat potensi pertumbuhan labanya gimana, strategi perusahaan gimana, coba forecast kinerja perusahaan 5 tahun kedepan, dll sehingga kalian bisa valuasi sahamnya dan bisa tetapin masuk di harga berapa.

2. Ternyata salah satu faktor penyebab turunnya harga saham Unilever adalah karena penurunan laba di tahun 2019 yang disebabkan melonjaknya laba perusahaan tahun 2018 akibat penjualan kategori spreads seperti Blueband dll sehingga terlihat seperti terjadi penurunan laba. Selain itu, valuasi dari Unilever memang sudah sangat mahal sehingga wajar kalo terjadi koreksi pasar.